Rabu, 24 Desember 2014
Catatan Kang Iyus 24/12/14
Ada sebuah kecemasan yg mungkin hinggap di benak beberapa orang tentang MMM, atau bahkan merasa sinis dan aneh jika berkomentar tentang MMM. Nada-nada miring yg sudah tak asing lagi didengar. Meskipun kabar miring tersebut sebetulnya jg itu-itu saja dan tidak berkembang dan menjadi sebuah dialektika yg aktif.
Pada dasarnya, MMM adalah sebuah gagasan. Sebuah ide tentang sebuah sistem ekonomi yg berazazkan kebersamaan dalam sebuah jejaring komunitas besar. Ide tersebut, adalah manifestasi dari sebuah kondisi real, bahwa sejatinya banyak orang tidak punya pilihan apapun atas kemerdekaan ekonominya. Kemerdekaan ekonomi kita sudah direnggut sejak kita tergabung dalam sebuah jaringan global ekonomi dunia saat memasuki era orde baru. Dan banyak orang yg tidak mengerti bahwa nantinya, kitapun berada diujung tanduk. Satu kenyataan yg bahkan belum terjawab adalah, bagaimana ekonomi global ini bisa menghindari HyperInflasi?
Sedangkan ekonom kita, bahkan dunia, hanya bisa memprediksi, ramalan-ramalan menguatnya mata uang yang kemudian dikaitkan dengan kebijakan politik. Padahal, upaya-upaya tersebut hanyalah sebuah katarsis, hanya temporal saja. Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem ekonomi global ini adalah selalu akan menguntungkan manusia yg hidup dijaman sekarang. Bagaimana dengan generasi yg akan datang? Kita terlalu munafik untuk melihat jauh kedepan, krn ekonom sdh tentu paham bahwa mereka hanya bisa menunda HyperInflasi tersebut.
Ibaratnya, orang-orang sebelum jaman kita, kehidupan ekonominya jauh lebih ringan, karena saat itu, tingkat inflasinya masih relatif rendah. Harga-harga barang tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan jaman sekarang. Bagaimana harga barang dijaman anak-anak dan cucu kita nanti? Maka saya berani menjawab dengan sangat yakin seyakin-yakinnya, "Jauh lebih mahal ketimbang jaman kita!". Lantas pilihan apa yg kita punya?
Kita menjadi tidak punya pilihan, karena memang proses ini sudah menjadi sebuah hegemoni ratusan tahun lamanya, seakan-akan kita mengamini secara sadar bahwa itu adalah kebenaran. Dalam berbagai hal, kita sebenarnya berada dalam sebuah pyramida besar, baik secara ekonomi, maupun tatanan sosial. Begitupun juga dalam hal perekonomian. Tentu ada kelompok-kelompok diatas kita yg lebih sejahtera, lebih gendut tanpa harus memeras keringatnya lebih keras. Bangunan-bangunan pyramida ini dalam banyak hal tanpa kita sadari. Lantas apa yg ditakutkan dengan MMM? Seolah-olah orang paling menganggap sinis dengannya?
Bukan hal yang tidak mungkin, bahwa tatanan perekonomian ini didasarkan dengan sebuah sistem donasi, bukan lagi sistem ribawi. Namun ketika banyak orang yang mulai tersadar saat krisis moneter pasca 98, sejak itu pula marak didengungkan dengan memakai kata "Syariah". Padahal ujungnya pun sama saja, tetap ada konsensus yg tetap bersendikan ribawi. Boleh dibilang, penggunaan kata "Syariah" adalah strategi jitu yang dipakai sebagai pendekatan marketing. Bagaimanapun, hal ini harus dilakukan sebagai upaya untuk merebut TRUST. Ya.... Trust menjadi hal yg mutlak.
Membangun sebuah kesadaran baru, tentu tidaklah segampang membalik telapak tangan, karena masyarakat sudah tertidur selama ratusan tahun. Satu hal yg menjadi pembeda, bahwa MMM adalah sebuah pilihan merdeka. Bahwa bukan hal yang tidak mungkin jika semua orang bisa bergandengan tangan, bahkan secara finansial sekalipun. Memperlakukan "Kertas Bernominal" secara Adil, pada tempatnya. Bahwa Kertas Bernominal ini hanyalah instrumen untuk bisa membahagiakan, bukan untuk diperlakukan laksana dewa dan ditumpuk menjadi bukit tanpa bisa berputar dan bermanfaat bagi orang lain.
Atas dasar ketidakmerdekaan kita dalam bidang ekonomi tersebutlah, MMM menjadi sebuah alternatif solusi, daripada menggantungkan diri pada tatanan ribawi. Seperti yang telah disinggung dibagian pertama tulisan ini. Bahwa, satu hal yg membedakan adalah dalam hal "Pilihan Merdeka" dalam hal sistem ekonomi. Kita tentu sudah lelah berlindung atas pilihan sistem ekonomi ribawi yang bergantung pada penghalusan makna-makna saja sebagai ujung tombak penguat sistem mereka. Selain, tentu saja, legalitas dalam bidang hukum dan tata negara yang sudah disahkan secara konstitusi. Toh pada akhirnya, hal-hal ini pun tak luput dari sebuah kepentingan golongan tertentu yg berusaha melindungi kerajaan besar tersembunyi mereka.
Pernahkah berfikir secara frontal, andaikan saja, semua pekerja di Indonesia, atau dunia, berhak atas upahnya dibayar tidak dengan angka-angka yang hanya tertulis di buku rekening? Pernahkah kita berfikir, jika upah kerja kita langsung dibayarkan dengan beberapa karung beras, minyak goreng, gula, tempe, atau sebongkah emas? Jika hal itu bisa dilakukan maka apa yang terjadi? Lantas siapa yang bodoh? jika ternyata hasil keringat, kerja banting tulang hanya dibayar dengan lembaran-lembaran kertas bertuliskan angka. Parahnya lagi, jika lembaran-lembaran kertas bertuliskan angka tersebut makin tak bernilai termakan waktu. Karena makin lama, nilainya semakin berkurang dan mungkin akan ada masa dimana sudah tidak berharga lagi.
Tentu saja, masih ada jalan yg masih bs ditempuh, dengan saling mengikatkan diri, bergotong-royong secara finansial. Mempertemukan orang satu dgn yg lain dalam satu itikad yg sama dan saling mensejahterahkan. Apakah tidak mungkin hal ini bisa dilakukan? Tentu mimpi-mimpi ini tidak hanya sekedar menjadi pepesan kosong semata, jika memang sdh terbangun kesadaran.
Setidaknya, bagi kami yg sdh bergabung di MMM, ini adalah sebuah pilihan merdeka kami. Pilihan merdeka atas ketidaksediaan pilihan selama ini. Maka sudah sepatutnya, orang-orang sinis, dan menganggap remeh pilihan kami di MMM untuk bs menghormati dan menghargai. Setidaknya, kami sudah memilih dan berbuat sesuatu di MMM, tidak hanya berdiam diri dan larut dalam tatanan ribawi ini. Lantas, giliran kami yg bertanya pd orang-orang sinis tersebut, apa pilihanmu?? Apa yg bisa anda lakukan??
Dirgahayu MMM
Salam Hormat Mavrodian Indonesia.
Senin, 15 Desember 2014
DUKA MENDALAM LONGSOR BANJARNEGARA
Longsor di Banjarnegara Jawa Tengah menghentak rasa duka mendalam Negeri
ini. Musibah yang terjadi secara tiba-tiba tersebut sudah menrenggut
nyawa manusia. Salah satu Manager 100 MMM asal kota tersebut juga
menjadi salah satu korban namanya Bapak Sukamto, menurut postingan dari
beberapa group yang sempat saya ikuti.
Kami segenap Team mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran.
Selamat jalan saudaraku, perjuanganmu akan kami lanjutkan untuk mensejahterakan masyarakat di bumi pertiwi. Estafet ini akan terus berjalan..!!!
Untuk saudara-saudara seperjuangan MMM, jika anda berkenan untuk memberikan Donasi kepada saudara-saudara kita di Banjarnegara, silahkan transfer ke rekening dibawah ini :
Kami segenap Team mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran.
Selamat jalan saudaraku, perjuanganmu akan kami lanjutkan untuk mensejahterakan masyarakat di bumi pertiwi. Estafet ini akan terus berjalan..!!!
Untuk saudara-saudara seperjuangan MMM, jika anda berkenan untuk memberikan Donasi kepada saudara-saudara kita di Banjarnegara, silahkan transfer ke rekening dibawah ini :
Bank BRI Syariah, nomor rek. 1017058092 atas nama Arief Surya Damsi
Bank Mandiri, nomor rek. 1520011986045 atas nama Arief Surya Damsi
Cara Donasi,
Silahkan transfer ke rekening yang ada diatas, lalu sms ke nomor 085259299378 dengan format
donasi banjarnegara-jumlah donasi-transfer ke rekening-nama anda-asal
contoh : banjarnegara-Rp.1.000.000-ke rek. Mandiri-Rony-Mangkutana
Seluruh donasi akan kami salurkan ke FKMI setempat,
Besar kecil donasi anda turut membantu saudara kita disana.
Batas sumbangan donasi sampai tanggal 20 Desember 2014
Sumber Berita : http://mmm2012support.blogspot.com
Langganan:
Komentar (Atom)



